Desil Ternyata Bukan Pemeringkatan Kekayaan
Beberapa orang sering salah faham tentang desil. Mereka mengira desil adalah pemeringkatan harta dan kekayaan. Yang paling kaya diposisikan pada desil 10, sedangkan yang paling miskin di desil 1. Ini adalah anggapan keliru.
Walau kekayaan menjadi salah satu faktor penentu desil, tapi sebenarnya desil tidak hanya ditentukan oleh kekayaan. Sebab desil bukan pemeringkatan kekayaan, melainkan pengelompokan kesejahteraan masyarakat berbasis keluarga.
Disini, kata kunci yang jadi pembeda adalah kesejahteraan. Yang mana kesejahteraan dan kekayaan adalah dua hal yang tidak sama meskipun kadang berkaitan.
Jika kekayaan biasanya berkaitan dengan harta, maka kesejahteraan berkaitan dengan kondisi hidup yang baik, makmur, sehat, dan damai secara lahir maupun batin.
Sangat mungkin ada orang yang dianggap memiliki harta berkecukupan, tetapi tidak lebih sejahtera dari orang yang secara harta berada di bawahnya.
Hal ini karena kesejahteraan tidak ditentukan dari harta semata, melainkan dari banyak faktor. Begitu pula desil yang saat ini dibuat oleh pemerintah untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan suatu keluarga, ada banyak faktor penentunya.
Setidaknya ada 39 variabel utama yang menjadi faktor penentu desil. Selain harta dan kekayaan, faktor lain yang memengaruhi desil misalnya dari identitas individu, status perkawinan, sisi kesehatan, pendidikan, jumlah anggota keluarga, sumber air, sumber penerangan, dan lain sebagainya.
Apabila satu keluarga di dalamnya ada penyandang disabilitas atau memiliki penyakit stroke, kanker, jantung, dan penyakit kronis lainnya, maka desilnya akan berbeda dengan keluarga yang isinya sehat semua.
Apabila dalam satu keluarga tingkat pendidikannya rendah semisal mentok di lulusan SD dan SMP, ini pun akan berbeda desilnya dengan keluarga lain yang di dalamnya ada yang lulus SMA, S1 atau S2.
Dari sisi perkawinan, seseorang yang statusnya lajang, kawin, janda atau duda, ini pun memengaruhi terhadap desil. Termasuk anak yatim, piatu, atau yatim piatu.
Contoh-contoh tersebut menggambarkan bahwa desil tidak hanya dipengaruhi harta, tetapi juga faktor-faktor lainnya yang terakumulasi di dalam sebuah keluarga.
39 variabel inti penentu desil sebagai berikut:
13 Variabel Individu
1-6: Identitas Individu
7: Status hubungan keluarga
8: Status perkawinan
9: Pendidikan
10: Pekerjaan
11: Kepemilikan usaha
12: Disabilitas
13: Riwayat penyakit kronis
26 Variabel Keluarga
1-12: Identitas keluarga
13: Keluarga dalam rumah
14: Status kepemilikan rumah
15: Jenis lantai terluas
16: Jenis dinding terluas
17: Jenis atap terluas
18: Sumber air minum utama
19: Sumber penerangan utama
20: Daya listrik terpasang
21: ID meteran PLN
22: Bahan bakar utama memasak
23: Fasilitas BAB
24: Jenis kloset
25: Pembuangan akhir tinja
26: Kepemilikan aset
Kepemilikan Aset
Pada variabel ke-26, meliputi:
Aset bergerak:
- tabung gas
- lemari es
- AC
- pemanas air
- telepon rumah
- tv datar
- emas perhiasan
- komputer/laptop/tablet
- sepeda motor
- sepeda
- mobil
- perahu
- kapal perahu motor
- smartphone (HP)
- sawah kebun
- lahan lainnya, rumah lainnya
Ternak:
- ternak besar (sapi, kerbau, kuda)
- ternak kecil (kambing, domba, babi)
Dan penulis sendiri ketika menulis tulisan ini berdasarkan hasil pengecekan berada pada desil 10. Itu artinya penulis dikelompokkan ke dalam kelompok masyarakat sejahtera.
Kembali penulis garis bawahi desil 10 di sini adalah kelompok masyarakat sejahtera, bukan masyarakat kaya raya. Sebab jika desil 10 konsepnya kaya raya, tentu penulis akan komplain karena yang layak di desil 10 jika berdasar kekayaan kira-kira adalah Hary Tanoe, Jusuf Hamka, Raffi Ahmad, Willy Salim, Aburizal Bakrie, dan lain sebagainya. Atau minimal diisi oleh orang-orang yang sudah mampu beli Pajero dan atau Fortuner.
Sedangkan penulis belum ada di posisi itu.
Akan tetapi penulis tidak akan komplain karena desil adalah pengelompokan tingkat kesejahteraan.
Dan setelah mengukur diri, penulis memang merasa berada dalam titik sejahtera, hidup damai, tentram, dan bahagia. Meski dari sisi kekayaan mungkin tidak termasuk kaya, hanya sekedar dapat mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari, tapi dari sisi kesejahteraan penulis memang merasa tidak mengalami suatu kesedihan, kesulitan, dan kerentanan. Hidup penulis damai-damai saja dari kecil hingga sekarang.
Penulis dan keluarga dalam kondisi sehat, pendidikan tinggi, punya hunian, hidup rukun, dan merasa serba diberi kemudahan dalam menjalani hidup sehari-hari.
Harapannya semoga semakin sejahtera, dan bisa termasuk dalam barisan orang kaya raya.


.jpeg)
Posting Komentar