Jangkrik dan Kenangan Basa Harita

Table of Contents

Selepas ngaji magrib tadi, saya dapat laporan dari istri bahwa ada hewan di kamar. Saya hampir menduga, hewan tersebut adalah gajah, jerapah atau mungkin singa.

Namun kemudian istri bilang bahwa hewan tersebut terbang.

Pikiran saya pun menerawang pada hewan-hewan yang bisa terbang. Namun kali ini saya tidak over thingking, saya pikir mungkin sekedar nyamuk.

"Paling nyamuk, Bu. Atau mungkin belalang soalnya Ayah tadi ada belalang," kata saya dengan ekspresi datar. Sebuah ekspresi yang sebenarnya merupakan bentuk lain dari keengganan saya untuk memeriksa hewan apakah yang dimaksud.

Saya sedang merasa lelah. Saya ingin segera tidur karena seharian keluyuran dengan beragam aktivitas di luar rumah.

"Oh gitu," respon istri saya.

Selang beberapa waktu, ketika saya mulai rebahan di kasur, ternyata benar ada hewan terbang. Bukan nyamuk atau belalang.

"Tuh kan, itu kayaknya bukan belalang," kata istri dengan agak sewot.

"Udah biarin," balas saya masih dengan ekspresi datar, sebuah reaksi yang menyiratkan keteguhan saya dengan sikap enggan untuk beranjak dari posisi rebahan.

Namun, istri tidak berhenti menjalankan tupoksinya untuk rewel, inilah, itulah. Akhirnya saya pun mengalah dan bangun untuk memeriksa.

Tepat di sudut tempat tidur, saya menemukan jangkrik. Seekor hewan yang sudah lama tidak saya temui.

Kemudian saya ambil jangkrik tersebut dengan tutup panci.

"Tuh kan takut?" kata istri mengontari cara saya menangani seekor jangkrik.

"Ya biar gampang aja," kata saya.

Di lubuk hati yang tidak terlalu dalam, sebenarnya saya memang agak takut. Entah kenapa muncul perasaan demikian. Pedahal saya sangat sadar bahwa jangkrik bukan hewan berbahaya. Dan dulu hewan ini adalah mainan masa kecil saya.

Saya buang jangkrik tersebut ke luar rumah. Hingga tiba-tiba pikiran saya pun melintas ke masa lalu. Dimana sebenarnya saya pernah hidup bersama jangkrik di masa kecil.

Jangkrik dan Kenangan Basa Harita

Kenangan Basa Harita

Dulu, kira-kira ketika saya masih sekolah SD, saya adalah anak yang biasa main di sawah. Dan salah satu yang biasa menemani permainan saya di masa kecil adalah jangkrik.

Menangkap dan memegang jangkrik bukanlah hal yang menakutkan. Saya terbiasa melakukan itu.

Saya masih ingat, ada puluhan jangkrik yang saya pelihara. Semua jangkrik-jangkrik tersebut adalah hasil tangkapan saya sendiri. Saya ambil dari pembatas sawah yang rungkad atau sengaja saya rungkadkan.

Dulu, saya mahir membuat kandang jangkrik.

Biasanya, kandang jangkrik saya buat dari bekas pagar bambu yang dipotong dan disusun selang seling. Kemudian diikat setiap sudutnya pakai tali atau karet. Atau kandang jangkrik juga bisa dibuat dari sapu lidi yang ditusuk berbaris pada batang daun pisan. Lantas disabung sambungkan sehingga berbentuk kotak semacam sangkar burung.

Selain kandang, saya juga sering mempersiapkan pakan jangkrik. Hanya saja saya lupa persisnya. Mungkin rumput atau daun sampeu gitu? Lupa.

Jangkrik-jangkrik tersebut bisa diadu.

Saya biasanya membuat lomba adu jangkrik. Saya mengajak teman untuk bersaing adu ketangkasan jangkrik. Yang dilombakan biasanya suara, lomba perkelahian, dan kandang.

Begitu kira-kira follow saya di instagram: Ang Rifkiyal


Posting Komentar